Selamat datang di Indoasia Aset Manajemen
 
Seperti diketahui, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 2,25%–2,5%. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, setidaknya dalam dua hari ke depan, pasar masih dipenuhi sentimen ini. "The Fed juga bilang tidak ada urgensi menaikkan suku bunga acuan sampai akhir tahun.
Penjualan surat utang negara syariah ritel bulan ini tampaknya cukup sukses. Investor tampak memborong sukuk ritel (Sukri) seri SR-011 yang ditawarkan melalu berbagai mitra distribusi.
Sentimen utama penguatan rupiah datang dari kondisi eksternal, yaitu rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pelaku pasar berekspektasi, dalam rapat kali ini, petinggi The Fed akan menahan suku bunga acuan saat ini di 2,25%–2,5%.
Analis Indo Premier Sekuritas Mino menambahkan, sentimen lainnya berkaitan dengan penguatan harga beberapa komoditas, seperti CPO, nikel, timah serta emas. Untuk Kamis (21/3), dia memperkirakan, IHSG akan menguat di kisaran 6.440–6.525.
Harga emas melompat di awal perdagangan pagi ini setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve mengumumkan tidak akan menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini.
China dikabarkan mengelak dari permintaan AS pada negosiasi perdagangan yang masih juga belum rampung. "Kekhawatiran perdagangan kembali mencual dengan kekhawatiran pemerintah AS bahwa China mengelak dari janji yang mereka buat dalam negosiasi hingga saat ini," kata Chris Zaccarelli, chief investment officer Alliance kepada Reuters.
Analis Asia Tradepoint Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan, penguatan rupiah dipicu ekspektasi pelaku pasar bahwa The Federal Reserves kembali bersikap dovish pada pertemuan FOMC. Keyakinan para pelaku pasar didasari dari data ekonomi AS yang kurang memuaskan, seperti data inflasi dan penjualan rumah baru di AS.
Harga batubara berkalori rendah bakal merangkak naik. Salah satu pemicunya lantaran sejumlah produsen batubara belum menggenjot produksi di awal tahun ini.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan, walau nilai tukar mata uang Garuda perkasa, namun penguatan mata uang ini tidak terlalu signifikan. Penguatan rupiah juga tidak akan berlangsung lama.
Harga emas bertahan di atas level US$ 1.300 sejak Jumat lalu mengantisipasi rapat The Fed. Pasar memperkirakan, tahun ini bank sentral Amerika Serikat (AS) tidak akan menaikkan suku bunga acuan. Bahkan, sejumlah pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga tahun depan.
Harga minyak mencapai level tertinggi tahun ini setelah negara-negara pengekspor minyak OPEC dikabarkan akan memperpanjang pemangkasan produksi minyak mentah untuk menahan laju pasokan.
Harga minyak tergelincir di awal pekan ini. Senin (18/3)
Bursa Asia menguat di awal pekan ini. Senin (18/3)
Tren penurunan Credit default swap (CDS) menjadi sinyal positifnya kondisi pasar obligasi Indonesia untuk saat ini
Analis Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar menuturkan, pergerakan rupiah hari ini akan dipengaruhi rilis data neraca dagang. Defisit neraca dagang Indonesia diprediksi menyempit dan positif bagi rupiah.
utlook bearish dari OPEC ini menahan reli harga minyak yang terjadi sejak awal pekan. "Prediksi inilah yang menyebabkan harga fluktuatif," kata Phil Streible, senior commodities strategist RJO Futures kepada Reuters.
Salah satu penghambat kenaikan bursa saham adalah kegagalan Amerika Serikat (AS) dan China mencapai kesepakatan di akhir bulan ini
Kenaikan harga emas ditopang data ekonomi terbaru AS yang memperkuat pandangan The Fed untuk lebih bersabar dalam kebijakan moneter. Kilau emas juga dipoles sentimen ketidakpastian kesepakatan Brexit.
Minat investor berinvestasi di reksadana terproteksi masih cukup tinggi. Namun, para manajer investasi (MI) mengaku kesulitan mendapatkan surat utang yang bisa dijadikan aset dasar atau underlying asset bagi reksadana terproteksi dengan imbal hasil menarik.
Harga Surat Utang Negara diperkirakan masih akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan mengalami kenaikan pada Rabu (13/3)
Terms of Use / Privacy and Security © 2013 PT. Indoasia Aset Manajemen All rights reserved