Selamat datang di Indoasia Aset Manajemen
 
oritas bursa Asia dibuka melemah pada awal perdagangan Senin (17/2), karena investor mulai menimbang pukulan bagi ekonomi di pasar Asia dalam jangka pendek akibat virus corona. Meskipun adanya harapan terhadap stimulus kebijakan lebih lanjut yang membendung pelemahan lebih lanjut.
The International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak pada kuartal I akan turun untuk pertama kalinya dalam 10 tahun sebelum naik lagi di kuartal II. Lembaga ini memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global selama setahun penuh menjadi 825.000 barel per hari.
Kenaikan harga emas terdorong oleh naiknya kekhawatiran investor lantaran peningkatan tajam dalam jumlah kasus virus corona di China. Alhasil, investor kembali mencari aset dengan risiko rendah.
Bursa Asia dibuka bervariasi pada awal perdagangan Jumat (14/2) dengan mayoritas indeks melemah, dipicu meningkatnya kekhawatiran investor tentang kenaikan jumlah korban yang terinfeksi virus corona.
Saat IHSG melempem, sejumlah saham emiten berkapitalisasi besar alias big cap harganya naik dan menyangga pergerakan IHSG.
Harga timah menguat dalam dua hari terakhir. Penguatan harga timah diproyeksi akan berlanjut sepanjang tahun ini.
Bursa Asia goyah setelah laporan baru tentang wabah virus corona menunjukkan lonjakan kasus baru di Wuhan, pusat penyebaran virus tersebut.
Jumlah korban wabah virus corona yang masih bertambah tidak serta membuat rupiah melemah. Berdasar pasar spot Selasa (11/2), rupiah ditutup menguat sebesar 0,27% ke Rp 13.675 per dolar Amerika Serikat (AS).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,04% menjadi 5.954,40, Selasa (11/2). Sejak awal tahun, IHSG masih minus 5,48%. Beda nasib dengan IHSG, beberapa saham emiten berkapitalisasi besar alias big cap harganya bergerak turun.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengungkapkan, pihaknya membuka opsi untuk merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) periode semester I. Dengan begitu, produksi batubara nasional bisa meningkat dari target saat ini yang berada di angka 550 juta ton.
Ekonom Pefindo Fikri C. Permana mengatakan pelemahan rupiah di awal pekan ini dipengaruhi faktor risiko global, khususnya wabah virus corona.
Bursa Asia tampak berhati-hati karena investor menilai seberapa cepat pabrik-pabrik di China dapat kembali beroperasi di tengah ancaman virus corona yang memakan banyak korban.
Penurunan harga minyak dipicu oleh harapan pertemuan anggota OPEC+ untuk membahas dampak virus corona pada pasar minyak kembali memudar.
Kenaikan harga emas ditopang oleh kekhawatiran perlambatan ekonomi akibat merebaknya wabah virus corona dan suku bunga yang lebih rendah secara global mengimbangi data ekonomi AS yang kuat.
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, penurunan AUM khususnya pada reksadana saham terjadi karena kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan Januari kurang mumpuni setelah minus hampir 6%. Alhasil, jumlah portofolio saham rata-rata mengalami penurunan.
Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menjelaskan, penurunan AUM khususnya pada reksadana saham terjadi karena kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan Januari kurang mumpuni setelah minus hampir 6%. Alhasil, jumlah portofolio saham rata-rata mengalami penurunan.
Rupiah menguat seiring dengan kabar kenaikan cadangan devisa (cadev) bulan Januari. Cadangan devisa per Januari diprediksi mencapai lebih dari US$ 131 miliar
enguatan bursa Asia selama beberapa hari ini akhirnya tertahan menjelang akhir pekan. Jumat (7/2) pukul 8.34 WIB, indeks Nikkei 225 turun 0,25% ke 23.813. Hang Seng tergerus 0,54% ke 27.346.
Pertemuan OPEC+ hingga Rabu belum menentukan rekomendasi konkret. Satu sumber Reuters mengatakan bahwa Rusia tidak mendukung pemangkasan produksi lebih dalam daripada yang terjadi saat ini.
Volatilitas yang terjadi pada pergerakan indeks obligasi atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI) dalam sepekan terakhir, rupanya tidak menyurutkan daya tarik pasar obligasi Tanah Air. Meskipun volatilitas diprediksi masih akan berlanjut, namun prospek obligasi masih positif ke depan.
Terms of Use / Privacy and Security © 2013 PT. Indoasia Aset Manajemen All rights reserved