Selamat datang di Indoasia Aset Manajemen
 
BI melakukan penurunan suku bunga sejalan dengan kondisi perekonomian global yang melambat. Kebijakan ini juga sejalan dengan tetap rendahnya perkiraan inflasi ke depan dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi di tengah pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas ekonomi Indonesia yang terkendali.
Gubernur Fed New York John Williams mengatakan pada hari Kamis (18/7), pembuat kebijakan perlu menambah stimulus lebih awal untuk menangani inflasi yang terlalu rendah ketika suku bunga mendekati nol dan tidak bisa menunggu bencana ekonomi terjadi.
Bursa saham Asia bergerak naik pada awal perdagangan Selasa (16/7). Pelaku pasar tengah menanti rilis data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) dan laporan pendapatan perusahaan untuk mengukur kesehatan negara ekonomi terbesar tersebut.
Nafan memprediksi, pergerakan indeks akan dipengaruhi antisipasi pasar terhadap penetapan bunga BI. Sementara dari eksternal, IHSG kemungkinan terimbas penurunan data penjualan ritel dan data penjualan ritel inti AS, yang turun dari level 0,5% menjadi 0,1%
Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam, Selasa (16/7) berada di Rp 702.000. Harga tersebut turun Rp 4.000 dari posisi, Senin (15/7).
Fokus perhatian pasar akan tertuju pada data produk domestik bruto (PDB) China yang segera dirilis. Sejumlah analis memperkirakan pertumbuhan kuartal kedua melambat menjadi 6,2% dari tahun sebelumnya, merupakan laju tahunan terlemah sejak awal 1992.
Kurs rupiah berpeluang menguat terhadap dollar AS pada perdagangan Senin (15/7). Hal ini didorong oleh data neraca dagang Indonesia yang diproyeksikan surplus.
Pidato Ketua The Fed Jerome Powell di depan Komite Perbankan Senat AS semakin memperjelas sinyal pemangkasan suku bunga oleh The Fed di akhir bulan ini. Sembari menanti kepastian dari The Fed, ada beberapa instrumen safe haven yang layak diperhatikan.
Dalam prediksi tahun 2020 pada laporan bulanan, OPEC mengatakan bahwa permintaan minyak global akan mencapai 29,27 juta barel per hari untuk 14 negara anggotanya, turun 1,34 juta barel per hari dari tahun ini.
Pasar obligasi Indonesia kian cerah seiring menguatnya sinyal penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) oleh The Federal Reserves. Berkat sentimen tersebut, yield surat utang negara (SUN) kembali turun.
Nilai tukar rupiah melemah pada Jumat (12/7) pagi. Pukul 8.12 WIB, rupiah spot berada di Rp 14.082 per dollar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 0,11% jika dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan kemarin pada Rp 14.067 per dollar AS.
"Pasar saham berharap Jerome Powell mengungkapkan pandangan dovish, dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan," kata Masahiro Ichikawa, senior strategist Sumitomo Mitsui DS Asset Management kepada Reuters.
"Pasar saham berharap Jerome Powell mengungkapkan pandangan dovish, dan mereka mendapatkan apa yang diinginkan," kata Masahiro Ichikawa, senior strategist Sumitomo Mitsui DS Asset Management kepada Reuters.
Wall Street bergembira menyambut pernyataan Gubernur bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve Jerome Powell soal potensi penurunan suku bunga bulan ini. Rabu (10/7), indeks S&P 500 sempat menembus 3.000 untuk pertama kalinya sebelum akhirnya ditutup menguat 0,45% ke 2.993,07.
Pasar komoditas safe haven saat ini menunggu sinyal dari bos bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan berbicara di hadapan Kongres pada Rabu dan Kamis. "Jika Gubernur The Fed Jerome Powell menunjukkan pandangan dovish, dollar akan melemah dan menopang harga emas," kata Ole Hansen, analis Saxo Bank
"Pertimbangan The Fed untuk memangkas suku bunga tidak hanya karena pertumbuhan, tapi juga inflasi yang masih jauh di bawah target. Ekspektasi inflasi pun menurun sebelum The Fed menunjukkan sinyal pemangkasan," kata Kevin Cummins, ekonom senior AS di NatWest Markets kepada Reuters.
Frances Cheung, head of Asia macro strategy Westpac Banking Corp mengatakan, mata uang kawasan Asia sulit pulih hingga akhir tahun.
I Made Adi Saputra Analis Fixed Income MNC Sekuritas mengatakan hari ini harga SUN akan bergerak bervariasi dengan kecenderungan turun karena dibayangi aksi ambil untung investor.
Potensi melemahnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan AS didorong oleh penguatan sejumlah data tenaga kerja AS ketika dirilis Jumat lalu. Salah satunya adalah data non-farm payrolls AS.
Pertengahan tahun ini pemerintah memberi guyuran insentif pada sektor properti, dan semakin cerah jika The Fed menurunkan suku bunga yang berimbas pada penurunan suku bunga Bank Indonesia
Terms of Use / Privacy and Security © 2013 PT. Indoasia Aset Manajemen All rights reserved